Live In Gayamharjo

Pengalaman Live in Gayamharjo

     Pertama-tama mari kita mengenal terlebih dahulu apa itu live in. Live in adalah program kegiatan pembelajaran untuk mengenal lingkungan penduduk, dengan mengikuti setiap kegiatan mereka baik di dalam rumah maupun di luar. Sekolah mengharapkan setiap siswa mempelajari, mengenal, memahami, merasakan, dan merefleksikan kegiatan, pola kehidupan, dan nilai-nilai budaya masyarakat setempat. Menurut saya, tujuannya adalah untuk membangun sikap hidup sederhana, bekerja keras, gotong royong, mandiri, dan hidup lebih bersyukur. Sekarang, saya akan menceritakan pengalaman live in saya di Gayamharjo.

     Perjalanan kami dimulai pada Minggu, 22 Oktober 2017 di Gereja Kristus Raja Karawang. Kami berangkat menggunakan bus pada pukul 18.00 dan tiba di tempat tujuan sekitar pukul 06.00 di hari Senin. Setibanya di sana, para murid-murid mengikuti misa pembukaan, makan pagi, dan akhirnya diserahkan kepada orang tua pamong selama 5 hari kedepan.

     Saya, dan teman saya, Sri Clinton mendapat tempat lokasi di daerah Santo Yohanes atau biasa dikenal Ngekong, lebih tepatnya Ngekong atas. Kami mendapatkan keluarga yang sangat baik. Bapak pamong kami bernama Bapak Kamijo, dan ibunya bernama Ibu Kirmiyati. Mereka memiliki 2 anak, yang sulung adalah anak laki-laki bernama Frian. Usia Frian sama dengan kami, ia bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan. Sedangkan yang bungsi adalah anak perempuan bernama Tika, ia masih kelas 1 Sekolah Dasar waktu itu. Keluarga yang sangat perhatian dan penuh kasih terhadap kami.




     Keadaan lingkungan disana masih asri, warna hijau segar dapat dilihat dimana-mana. Karena kami berada di daerah yang cukup berada di atas, kami berdekatan dengan sawah dan ladang penduduk. Keadaan geografisnya cukup melelahkan untuk dilewati, karena banyak tanjakan dan turunan yang cukup terjal dan curam. Ditambah dengan cuaca yang tidak menentu, terkadang panas terik, dan terkadang sejuk dingin serta gerimis. Walaupun seperti itu, di pagi hari kami mampu merasa segar dan menghirup udara sejuk disana.



     Tempat kami tinggal, banyak memiliki tetangga, dan lebihnya lagi rumah saudara kandung dari ibu pamong kami berdekatan sekali dengan rumah kami. Setiap hari pasti ada tetangga yang datang dan berbincang-bincang cukup lama dengan Ibu Kirmiyati. Yang saya kagumi adalah sosialisasi mereka yang sangat dekat dan akrab. Mereka saling kenal satu sama lain, saling sapa satu sama lain, dan bahkan tidak hanya di lingkungan Ngekong saja, tetapi saling kenal sampai daerah-daerah yang lainnya. Kalau saya bisa bandingkan dengan kehidupan di kota, kehidupan mereka di desa sangatlah indah dan penuh keakraban. Di lingkungan tempat tinggal saya di Karawang saja, satu keluarga di rumah saja bisa tidak mengenal tetangganya di sebelah. Saling sapa pun mungkin tidak. Saya rasa kita perlu banyak belajar keakraban dan kesederhanaan dari mereka.

     Kebanyakan orang disana mendapatkan penghasilannya dari bertani, berladang, beternak dan kontruksi. Kaum ibu yang biasanya mengurusi ladang, dan bapaknya bekerja di konstruksi. Mereka bekerja dengan giat untuk memenuhi kebutuhan mereka dan keluarga mereka. Bapak pamong kami saja harus berangkat pagi dan pulang malam, bahkan sampai larut malam untuk bekerja. Karena hal itu, kami jarang berkomunikasi dengan Bapak Kamijo, dan lebih sering dengan Ibu Kirmiyati dan anak-anaknya. Kesempatan kami berkumpul bersama dan saling berkomunikasi adalah pada saat makan malam.



     Jika melihat prinsip hidup keluarga pamong kami, kami banyak dibuat sadar dengan prinsip mereka. Ibu Kirmiyati selalu mengatakan agar kita menjunjung kejujuran dan kerja keras. Untuk menemukan orang jujur dan ulet adalah hal yang sulit di masa sekarang ini. Satu kata dari Bapak Kamijo yang selalu saya ingat "Kalau tidak mau repot, ya tidak akan jadi". Kata-kata itu kedengarannya simple, tapi saya merasa disadarkan dengan kata-kata itu. Kisah hidup mereka sangat mengesankan bagi saya, ketika mereka harus merasakan landaan gempa bumi yang merusak rumah mereka dan bahkan hampir merenggut nyawa mereka. Namun karena kerja keras, mereka mampu menghadapinya dan memperbaikinya. Kerja keras mereka patut dicontoh, mereka tidak terus-menerus terlelap dalam kesedihan di waktu lalu, namun segera bangkit dan merubah keadaan. Saya merasa diberkati dengan cerita-cerita hidup mereka.

     Menjalani kehidupan seperti mereka adalah sebuah kesempatan yang berharga, saya belajar bagaimana kesederhanaan dalam hidup. Saya pergi dengan ibu dan bapak untuk bekerja, saya ikut membantu mereka di ladang mereka. Walaupun tidak banyak membantu karena belum terbiasa, saya sudah mampu merasakan beratnya kehidupan mereka. Jalan yang harus ditempuh untuk mencapai ladang mereka saja sulit. Kami harus memanjat tebih dan melewati hutan dan jalan sempit untuk sampai di ladang mereka. Belum lagi mereka yang harus membawa rumput-rumput liar untuk pakan ternak mereka.



     5 hari terasa lama saat dijalani, namun setelah waktu pulang tiba saya merasa bahwa hari-hari itu terasa cepat sekali. Waktu berpisah terasa sangat menyedihkan, bukan hanya bagi saya, tetapi bagi pamong-pamong juga. Isak tangis orang-orang terdengar saat waktu kami menaiki truk untuk pergi. Dan memang kami pergi meninggalkan mereka, tetapi kenangan-kenangan pasti akan tetap teringat.

     Sabtu harinya, kami pergi ke Candi Prambanan, Malioboro, dan Monjali untuk berwisata sebentar sebelum pergi pulang ke Karawang. Malam harinya, kami pulang dan kembali menghabiskan waktu kami semalaman di bus malam yang kami tumpangi. Kami tiba dengan selamat di Karawang pada pagi di hari Minggu, 29 Oktober 2017.

Komentar